Inklusif Berkarakter Today: Jum'at, 23 Oktober 2026 M
Berita-berita terbaru yang ada pada hari ini dan materi yang dipelajari di periode waktu hari ini di SD Al-Madina Inklusif Berkarakter, serta Resource Center (RC) dan Bengkel Kerja Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
SEMESTER GASAL TP 2026-2027OKTOBER 2026 MINKLUSIF BERKARAKTER TODAYKEBIASAAN HIDUP SEHARI-HARIHARI KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM) EFEKTIFPEKAN KETIGAHARI JUM'ATPENDIDIKAN AGAMA ISLAM, PENERAPAN AGAMA BERBASIS AL-QUR'AN & HADIST, PEMAHAMAN FIQIH DAN PENGUATAN AQIDAH, BACA TULIS AL-QUR'AN, DAN TAHFIDZUL QUR'ANFASE A KELAS II (SUNAN AMPEL)FASE A KELAS I (SUNAN GRESIK)PENDIDIKAN JASMANI, ROHANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN (PJOK)FASE B KELAS IV (SUNAN DRAJAT)MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN SOSIAL (IPAS)
Yafi Aldi Pranoto
10/24/20265 min read

BERITA #1


Menanamkan Akhlak Mulia Sejak Dini, Peserta Didik Kelas II Belajar Adab Menjaga Lisan
Serang, Banten, 23 Oktober 2026 — Peserta didik kelas II SD Al-Madina Inklusif Berkarakter mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan materi Adab Menjaga Lisan. Melalui pembelajaran ini, peserta didik diajak memahami pentingnya menjaga perkataan agar senantiasa baik, santun, dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik dikenalkan pada makna menjaga lisan sebagai kebiasaan berbicara dengan jujur, sopan, dan penuh pertimbangan. Guru menjelaskan bahwa perkataan yang baik dapat membuat orang lain merasa dihargai dan bahagia, sedangkan perkataan yang buruk dapat menimbulkan kesedihan, perselisihan, bahkan menyakiti hati orang lain.
Peserta didik juga mempelajari contoh perilaku menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah berbicara sopan kepada orang tua dan guru, berkata jujur, mengucapkan salam dan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta tidak mengejek atau menghina teman. Selain itu, peserta didik diajak membiasakan diri untuk tidak menyebarkan cerita yang belum diketahui kebenarannya dan menghindari perkataan yang dapat memicu pertengkaran.
Untuk membantu peserta didik memahami materi, guru menghubungkan pembelajaran dengan situasi yang sering mereka temui di rumah maupun di sekolah. Melalui contoh sederhana, peserta didik diajak membedakan perkataan yang baik dan kurang baik serta memahami bagaimana memilih kata-kata yang tepat ketika berbicara dengan orang lain.
Materi adab menjaga lisan tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan agama, tetapi juga membentuk kebiasaan berkomunikasi yang positif. Peserta didik belajar bahwa menjaga lisan merupakan salah satu bentuk akhlak terpuji dalam ajaran Islam. Mereka juga didorong untuk membiasakan diri berpikir sebelum berbicara, mendengarkan orang lain dengan baik, dan menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain.
Pembelajaran ini sejalan dengan komitmen SD Al-Madina Inklusif Berkarakter dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dan membangun karakter peserta didik sejak usia dini. Pendidikan agama diharapkan tidak berhenti pada pemahaman materi di kelas, tetapi juga tercermin dalam perilaku dan interaksi sehari-hari.
Melalui pembelajaran PAI dengan materi adab menjaga lisan, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang santun dalam berbicara, jujur dalam menyampaikan sesuatu, serta mampu menjaga perasaan dan menghargai sesama. Dengan membiasakan perkataan yang baik, peserta didik turut menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.




BERITA #2


Seru dan Menyehatkan! Peserta Didik Kelas I SD Al-Madina Bermain Suit Lari dalam Pembelajaran PJOK
Serang, Banten, 23 Oktober 2026 — Peserta didik kelas I SD Al-Madina Inklusif Berkarakter mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) melalui permainan tradisional yang seru dan penuh semangat, yaitu suit lari. Permainan ini menggabungkan kegiatan suit batu, gunting, kertas dengan aktivitas berlari, sehingga peserta didik dapat melatih keterampilan gerak sekaligus belajar melalui permainan yang menyenangkan.
Dalam kegiatan ini, peserta didik dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing memiliki area atau “kandang” sebagai tempat kembali. Anggota dari kedua kelompok saling berhadapan, kemudian melakukan suit menggunakan simbol batu, gunting, dan kertas. Hasil suit menentukan siapa yang harus mengejar dan siapa yang harus berlari menyelamatkan diri menuju kandang kelompoknya.
Anggota kelompok yang kalah suit harus segera mengejar lawan yang menang sebelum lawannya berhasil kembali ke kandang. Sebaliknya, peserta didik yang menang suit berusaha berlari secepat mungkin menuju kandang kelompoknya agar tidak tertangkap. Permainan berlangsung secara bergantian, sehingga setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk merasakan peran sebagai pengejar maupun pelari.
Melalui permainan suit lari, peserta didik berlatih meningkatkan kecepatan berlari, kelincahan, koordinasi gerak, serta kemampuan bereaksi terhadap situasi dengan cepat. Mereka juga belajar memperhatikan lawan, mengambil keputusan dalam waktu singkat, dan mengatur gerakan tubuh ketika mengejar maupun menghindar.
Selain memberikan manfaat bagi kebugaran jasmani, permainan ini mengajarkan nilai-nilai karakter yang penting bagi peserta didik. Mereka belajar menaati aturan permainan, bersikap sportif dalam menerima hasil suit, menghargai teman, serta menjaga keselamatan selama beraktivitas. Semangat kebersamaan juga tumbuh ketika peserta didik saling memberikan dukungan kepada anggota kelompoknya.
Guru mendampingi jalannya permainan untuk memastikan kegiatan berlangsung dengan tertib dan aman. Area bermain disiapkan agar peserta didik memiliki ruang yang cukup untuk berlari, sementara aturan permainan disampaikan dengan jelas agar mudah dipahami oleh anak-anak kelas I.
Melalui kegiatan PJOK ini, SD Al-Madina Inklusif Berkarakter berupaya menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Diharapkan, permainan suit lari dapat membantu meningkatkan kemampuan gerak dasar, menumbuhkan kecintaan terhadap aktivitas fisik, serta membangun sikap sportif dan percaya diri sejak dini.








BERITA #3


Mengenal Sumber Daya Alam dan Dampak Kebakaran Hutan, Peserta Didik Kelas IV SD Al-Madina Belajar Mitigasi Karhutla
Serang, Banten, 23 Oktober 2026 — Peserta didik kelas IV SD Al-Madina Inklusif Berkarakter mengikuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dengan materi sumber daya alam. Dalam kegiatan ini, peserta didik mempelajari kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menganalisis dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan manusia, serta mengenal berbagai upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana tersebut.
Pembelajaran diawali dengan pengenalan sumber daya alam, yaitu segala sesuatu yang berasal dari alam dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Peserta didik diajak memahami bahwa hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki peran penting, antara lain sebagai habitat berbagai makhluk hidup, penyimpan karbon, pengatur tata air, serta bagian dari keseimbangan ekosistem.
Selanjutnya, peserta didik mempelajari kasus kebakaran hutan dan lahan untuk mengidentifikasi penyebab serta dampak yang ditimbulkannya. Mereka diajak memahami bahwa karhutla dapat terjadi akibat faktor alam maupun aktivitas manusia. Kondisi cuaca kering dan vegetasi yang mudah terbakar dapat meningkatkan risiko kebakaran, sedangkan pembakaran lahan yang tidak terkendali merupakan salah satu aktivitas manusia yang dapat memicu terjadinya karhutla.
Dalam kegiatan analisis, peserta didik membahas berbagai dampak karhutla, seperti rusaknya habitat hewan dan tumbuhan, berkurangnya kualitas udara akibat asap, terganggunya kesehatan manusia, serta terhambatnya kegiatan belajar dan aktivitas masyarakat. Mereka juga mengenal dampak jangka panjang berupa kerusakan ekosistem dan terganggunya keseimbangan lingkungan. Melalui pembahasan ini, peserta didik belajar bahwa kerusakan sumber daya alam dapat menimbulkan permasalahan yang memengaruhi banyak aspek kehidupan.
Setelah menganalisis dampaknya, peserta didik mempelajari langkah-langkah mitigasi atau upaya untuk mengurangi risiko dan dampak bencana karhutla. Beberapa upaya yang dibahas meliputi tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api secara sembarangan, menjaga lingkungan hutan, melaporkan tanda-tanda kebakaran kepada orang dewasa atau petugas berwenang, serta mengikuti arahan keselamatan apabila terjadi kebakaran. Peserta didik juga memahami bahwa ketika asap pekat terjadi, mereka perlu menghindari area terdampak dan mengikuti petunjuk orang dewasa mengenai perlindungan diri.
Melalui pembelajaran berbasis kasus ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang sumber daya alam, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis sebab dan akibat, serta mencari solusi terhadap permasalahan lingkungan. Mereka diajak memahami bahwa menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian dan tindakan nyata.
Pembelajaran IPAS ini sejalan dengan komitmen SD Al-Madina Inklusif Berkarakter dalam menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna. Dengan mempelajari kasus karhutla, peserta didik diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga sumber daya alam, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, serta mampu menerapkan kebiasaan yang mendukung pencegahan kebakaran dan pelestarian alam dalam kehidupan sehari-hari.


